BOVEN DIGUL

Pengasingan (dalam hal ini pembuangan ke luar), bukanlah hal yang baru di Hindia Belanda. Di abad XX sendiri, Soerantiko Samin, pendiri agama Adam, di buang ke Sumatera Barat pada tahun 1907. Tjipto Mangoenkoesoemo, tahun 1920, dikenai larangan menetap di wilayah penduduk berbahasa Jawa di Jawa tengah dan Jawa Timur, selanjutnya menetap di Banda Neira pada tahun 1927. Semaoen, Tan Malaka, Darsono, Haji Misbach, Aliarcham, dan masih banak lainnya, ditolak menetap di Hindia Belanda atau diwajibkan menetap di beberapa tempat berbeda di bagian timur kepulauan antara tahun 1919 hingga 1926. Baru pada tahun 1927 dan 1940 para interniran[2] diasingkan ditempat yang sama.

Adalah Boven Digul, sebuah wilayah di Papua, bagian dari wilayah administratif Maluku, yang pada akhirnya dijadikan sebagai tempat pengasingan kolektif bagi mereka yang dianggap mengancam keamanan dan ketertiban (rust en orde). Konon, Boven Digul inilah kamp konsentrasi pertama yang lahir di dunia.

 Layaknya dunia hantu ganas, selama empat belas tahun, Boven Digul terus mengancam dan membayang-bayangi gerak aktivis pergerakan. Sejak akhir tahun 1926, menyusul pemberontakan PKI di Banten dan 1927 di Sumetera Barat, hingga tahun 1943, ketika kamp ini ditutup, ribuan aktivis pergerakan di kirim ke Digul. Diantara mereka adalah aktivis dan tokoh Partai Komunis Indonesia (PKI), Partai Republik Indonesia (PARI), Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Indonesia (PARTINDO), Perhimpunan Muslim Indonesia (PERMI), Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII), dan Sarekat Kaum Buruh Indonesia (SKBI). Nama-nama yang pernah mendiami tempat ini antara lain Chalid Salim, Najoan, Mas Marco  Kartodikromo, Xarim M.S., Aliarcham, Sardjono, Sjahrir, Hatta, Soenarjo, Mardjono, Sarosan, Djamaluddin Tamin, Daja bin Joesoef, Kandor, Moechtar Loetfi, Ilyas Jacob, Jalaloedin Thaib, Moehidin Nasoetion, Abdoel Hamid Loebis, Jahja Nasoetion, Dawud, Amir Hamzah Siregar, Ahmad Soemadi, Moerad, dan Bernawi Latif.[3]

Sebagai kamp pengasingan era 1930an-1940an, Boven Digul tidak bisa tidak bisa dilepaskan dari sejarah pergerakan rakyat Indonesia. Sayangnya, Digul cenderung di (ter)lupakan dalam memori kolektif bangsa ini. Tulisan di bawah ini berusaha membuka kembali memori bangsa akan Boven Digul sebagai kamp pengasingan yang (konon merupakan kamp pengasingan) pertama di dunia, kehidupan dunia hantu Boven Digul, dan kedudukan Boven Digul dalam sejarah pergerakan nasional Indonesia.

 

Kamp Pengasingan

Boven Digul merupakan salah satu wilayah gubermen Maluku. Boven Digul (biasa cukup disebut Digul), dikenal sejak diadakan penelitian geologi tahun 1900 dan 1913. (Dan) karena warna tanahnya yang merah, daerah ini juga disebut sebagai Tanah Merah.[4] Kondisi Digul yang 100% terisolasi menjadikan wilayah ini sebagai refensi utama tempat pengasingan bagi mereka yang dianggap mengacam keamanan dan ketertiban (rust en orde).[5] Takashi Shiraishi dalam wawancara langsung tanggal 20 Desember 1996 mengungkapkan alasan pemilihan Digul sebagai tempat pengasingan:

….yang terpenting diperhatikan adalah tempat pembuangan tersebut harus terisolasi 100%. Dan orang yang diutus untuk mencari tempat pembuangan yang baru itu adalah Gubernur Propinsi Maluku. Karena Nugini juga termasuk Propinsi maluku, orang ini mengusulkan Boven Digoel yang paling baik. Atas usulan dari Gubernur Maluku itu Dewan Hindia lalu menentukan Boven Digoel sebagai tempat pembuangan.

Barangkali ada tempat-tempat lain (di Hindia Belanda). Tapi menurut Gubernur Propinsi Maluku, Boven digoel itu ideal sebagai tempat pembangan karena 100% terisolasi. Jaraknya dari muara sungai Digoel 455 Km ke arah hulu, ke pedalaman. Itu sama dengan jarak Jakarta ke Semarang atau dari Amsterdam ke Paris. Tapi semuanya hutan lebat, rawa-rawa yang banyak nyamuk malaria dan di sungai-sungainya banyak buaya. Banyak penduduk aslinya yang masih head hunter atau masih kanibal, masih suka makan orang.[6]

 

Pendirian kamp penngasingan Digul tidak terlepas dari pemberontakan PKI yang pertama meletus di Jawa Barat 12 November 1926. Ketakutan terhadap anggota PKI, partai yang mengikuti internasional ketiga dan bermaksud menggulingkan pemerintahan yang sah dan melawan milik dan kehidupan para pejabat dan melawan keselamatan masyarakat merupakan alasan utama dibutuhkannya kamp pengasingan.

Pendirian kamp pengasingan massal diputuskan pada pertemuan luar biasa dewan Hindia Belanda (Raad Van Nederlandsch-Indie) yang diadakan tanggal 18 November 1926, kurang dari seminggu sejak pemberontakan komunis yang berawal di Jawa Barat. Sidang berikutnya berturut-turut dilanjutkan tanggal 19 November 1926 dan tanggal 24 November 1926. Tanggal 10 Desember 1926 melalui Surat Keputusan Gubernur Jenderal diputuskan bahwa wilayah Sungai Digul dipisahkan dari subdivisi (onderafdeeling) dari Papua Nugini bagian selatan dan dijadikan sebuah pemerintah subdivisi Boven Digul dengan tanah Merah sebagai pusat pemerintahannya. Dengan demikian, Boven Digul pun resmi sebagai tempat pengasingan bagi inteniran rust en orde.

Boven Digul bukanlah sebuah koloni narapidana. Seperti dijelaskan oleh pemerintah Hindia Belanda, pembuangan bukanlah sanksi yang dijatuhkan melalui proses hukum (penal saction) melainkan tindakan administratif, ditetapkan oleh kewenangan istimewa gubernur jenderal, exorbitant rechten, yang bisa menetukan para interni hidup di daerah tertentu. Digul juga bukanlah kamp konsentrasi, sebagaimana yang dikatakan sejarawan Belanda J.M. Pluvier. Hal ini dikarenakan Digul berbeda dengan kamp konsentrasi Nazi dalam hal bagaimana para penghuninya diperlakukan: tidak seorangpun di Digul disiksa atau dibunuh seperti di kamp-kamp konsentrasi Jerman. Pemerintah Hindia Belanda hanya membiarkan para penghuni mati, menjadi gila, atau hancur.[7]

 

 

Dunia Hantu

Adalah Kapten L. Th. Becking, pimpinan kesatuan yang menghancurkan pemberontakan November di Banten, yang ditunjuk oleh gubernur jenderal untuk membangun kamp pengasingan Digul. Pada tanggal 27 Januari 2007, pembangunan kamp tersebut dimulai. Selama dua bulan, pekerja yang terdiri dari dari pasukan dari Ambon serta tawanan pekerja (convict worker) berhasil membangun barak militer, gudang, rumah sakit, stasiun radio, kantor pos, dan tempat mandi besar (badvlot) di aliran sungai bagi tentara dan tawanan.

Rombongan pertama interniran tiba di Digul Maret 1927. Pada mulanya mereka dikumpulkan di Ambon. Rombongan pertama ini terdiri dari 50 pria, 2 diantaranya Cina, 30 anak dan beberapa anak-anak.[8] Kedatangan rombongan interniran pertama tersebut kemudian disusul inteniran lainnya. Sesudah jumlah interniran menjadi banyak (tahun 1928 mencapai 1.1139 interniran), komandan militer mengeluarkna beberapa ketentuan dan peraturan yang harus ditaati oleh para interan. Pertama, setiap orang buangan yang baru tiba harus diperiksa, untuk mengetahui, dia anggota partai atau aliran apa. Kedua, setiap pagi orang buangan harus turut dalam apel/baris, untuk mengetahui orang buangan itu ada atau tidak. Ketiga, setiap orang buangan harus menyatakan bahwa dia bersedia turut serta bekerja dalam usaha pembangunan perkampungan. Keempat, setiap orang buangan yang bersedia bekerja akan diberikan upah 40 sen sehari, dan untuk segala keperluan hidupnya sehari-hari, mereka dapat membelinya di toko pemerintah dengan harga yang sudah ditetapkan. Kelima, setiap orang buangan akan mendapatkan sebuah tikar, sehelai selimut, sebuah kelambu, alat-alat masak serta sejumlah alat perkebunan, secara cuma-cuma dari pemerintah. Terakhir, sebagai penghubung antara para orang buangan dan Komandan Militer Boven Digul, ditunjuk Sardjono, bekas ketua PKI, sebagai ketua kampung.[9]

Oleh pemerintah, interniran diberi kesempatan untuk membuka usaha.dengan adanya kebebasan tersebut, beberapa orang buangan yang berdarah dagang membuka toko-toko di rumahnya. Di antara mereka ada yang membuka warung nasi sederhana, ada pula yang membuka usaha-usaha lain seperti yang tercermin dalam tanda-tanda  di depan berbagai rumah yang bertuliskan ‘Laundress”, “Hair Dresser”, “English Teacher”, dan lain-lain. Selain itu, interniran juga mengisi waktu dengan mendirikan kelompok kesenian dan olahraga seperti kelompok Jazz, opera, ketoprak, pencak silat, sepak bola dan lain-lain. Kehidupan di Digul semakin sulit dengan adanya wabah malaria Zwatwaterkoort atau kencing hitam.

Kehidupan Digul yang keras; penuh nyamuk malaria, panas, lembab, gersang, dan sangat jarang penduduknya ditambah dengan wilayah yang ditebari oleh garnizun militer, penjara, polisi, dan kelompok mata-mata mendorong beberapa orang yang tidak tahan dengan kehidupan Digul berusaha melarikan diri ke Thursday Island. Najoan misalnya, tercatat mencoba empat kali melarikan diri keluar Digul. Sayangnya, dalam percobaannya yang terakhir, ia hilang di tengah rimba. Suasana Digul yang mirip dengan suasana dalam novel “One Hundred years of Solitute”, karya Garcia Marquest, tidak ayal membuat orang-orang yang didigulkan menjadi gila.[10] Soewignyo, seorang buruh kereta api, misalnya menuturkan tentang penderitaan di Digul:

Musuh utama kita di Digul ialah penyakit malaria, apalagi malaria tropika yang mempengaruhi syaraf. Kalau kena penyakit ini, kita bisa lumpuh. Kalau kena yang namanya malaria hitam, air seni kita menjadi kental. Kalau air seni itu masih seperti teh kental saja, kita masih bisa ditolong dengan minum air garam satu liter (kalau sudah kehabisan kina). Tetapi, siapapun yang terken penyakit itu, baik laki-laki maupun wanita, setelah sembuh akan mandul. Sedangkan, jika air seni sudah seperti kopi kental, maka tidak harapan bisa tertolong lagi.

Selain malaria, penyakit lain yang mengancam adalah penyakit syaraf. Artinya, di Digul, banyak orang yang menjadi gila. Ada seseorang, yang kebetulan adik seorang tokoh pergerakan nasional terkenal, yang kalau ketemu dengan siapa saja, lelaki atau perempua, akan diciumnya. Ada lagi yang tiba-tiba berpidato. Tidak peduli apakah ada yang mendengar atau tidak, pokoknya pidato. Saya sendiri juga hampir-hampir menderita penyakit syaraf. Tetapi saya tertolong, setelah seorang kawan saya mengajak saya untuk ikut dalam kelompok ketopraknya…..[11]

 

Secara struktural, interniran di Digul dapat dikategorikan menjadi empat. Pertama, de werkwillinger, para interni yang masuk dalam katagori ini bekerja pada beragam pekerjaan, sebagai kepala kampung dan juru tulis pada kantor pemerintah, perawat di rumah sakit, pekerja dinas pengendali malaria, juru tulis dan kuli di gudang  pelabuhan, pekerja teknik di pusat tenaga listrik dan kantor telepon, dan pekerja di sawah-sawah. Seluruh katagori pekerjaan ini digaji oleh pemerintah. Mereka yang mendapatkan gaji terendah adalah mereka yang bekerja di sawah yaitu dengan gaji 40 sen hari atau f10.50 per bulan. Gaji tertinggi diperoleh juru tulis pada kantor pemerintah yang mendapatkan gaji f90 per bulan. Mayoritas interni mau bekerjasama dengan pemerintah karena keyakinan mereka bahwa bekerja dengan pemerintah berarti semakin memperbanyak kesempatan untuk ke luar dari Digul. Katagori kedua, de eigenwerkzoekenden, pekerja mandiri, terdiri dari para nelayan, petani sayur mayur, pemilik toko dan warung, tukang pangkas rambut, pembuat roti,  tukang jahit, pembuat sepatu, fotografer, dan  guru swasta. Mereka menerima jatah makan, 18 kilogram beras perbulan sehingga mereka mampu menghidupi mereka sendiri. Katagori ketiga terdiri adalah de steuntrekkers, penerima bantuan atau mereka yang invalid, orang dengan penyakit kronis serius seperti malaria atau tuberkolusis, penderita gangguan jiwa, atau mereka yang menjadi gila karena isolasi yang lama. Katagori terakhir adalah de naturalis, ialah interni yang menolak bekerja apapun untuk pemerintah dan menerima jatah makan gratis dalam bentuk barang (in natura) dari pemerintah. Oleh penguasa lokal, kelompok katagori ini dipandang sebagai kaum ekstremis sehingga menjadi target mata-mata. Oleh karena itu, banyak kelompok ini yang ditahan dan dikirim ke kamp pengasingan kedua yaitu tanah tinggi; kamp bagi para overzoenlijken (mereka yang keras kepala).[12]

Pada Juli 1927, ketentuan untuk interniran diubah. Dalam ketentuan baru yang berlaku hingga kamp ditutp, para interni diperbolekan memilih bekerja untuk pemerintah atau tidak; setiap interni diberi tunjangan f0.72 sehari dalam bentuk pangan; dan hanya mereka yang mau bekerjasama dengan pemerintah  mendapatkan tambahan bayaran f0,30 per hari dalam bentuk tunai. Ketentuan yang baru ini karuan saja ditentang oleh para interni. Di bawah bekas pimpinan anggota PKI, sebuah dewan kampung dibentuk. Sebagai pusatnya, dibentuk Central Raad Digoel (CRD). Pada tanggal 1 Mei 1928 CRD dihancurkan dan seluruh partisipannya diisolasi di Gudang Arang, sebelah selatan Tanah Merah dan tidak berapa lama kemudian, Maret 1929, seluruh interniran tersebut dipindah ke Tanah Tinggi[13]

Pembuangan ribuan orang ke Digul tentu mengundang reaksi dari berbagai pihak. Mohammad Husni Tamrin, anggota Volksraad, misalnya, sering menanyakan masalah Digul di Volksraad. Sayangnya tidak direspon. Pemerintah baru bereaksi setelah adanya artikel M. Van Blankenstein yang terbit pada bulan September-Oktober 1928, di De Nieuwe Rotterdamsche Courant yang berisi tentang korban-korban tidak berdosa yang didigulkan. Secara rinci Blankenstein menuliskan perjalannya ke Boven Digul dan mengisahkan pertemuannya dengan banyak tawanan yang menyampaikan kesan dan pandangannya mengenai ketidakadilan (karena ditahan tidak berdasarkan keputusan pengadilan, hanya berdasar pada exorbitant). Artikel Blankenstein tersebut memicu pemerintah Belanda  turun tangan terhadap masalah Digul dengan mengutus Hillen, Gubernur Jawa Barat dan anggota Raad van Indie, atau Dewan Hindia yang bertugas untuk mengawasi kondisi umum di Digul, mewawancarai interni, serta mengidentifikasi mereka yang bisa dibebaskan.

Hillen dalam laporannya menuliskan bahwa tidak ada sedikitpun bekas petani dan pedagang di Digul yang mengetahui tentang komunisme, PKI, dan Sarekat Rakyat. Dalam laporannya pula, Hillen menyarankan agar pemerintah membebaskan 412 dari 610 interni yang diwawancarainya dengan catatan Tanah Tinggi tetap dipertahankan sebagai kamp pengasingan kedua.  Selain itu, Hillen juga merekomendasikan penutupan Tanah Merah sebagai kamp pengungsian. Menurut Hillen, masa depan Boven Digul  bukan terletak pada wilayahnya yang terisolasi melainkan tanah yang tandus dan malaria yang menjangkiti interniran.

Setelah para interni yang berkelakukan baik dipulangkan, pemukiman di Tanah  Tinggi bisa dihapuskan dan penduduknya bisa digabungkan dengan mereka yang yang bermukim di Tanah Merah. Di tempat pembuangan yang baru proses seleksi harus terus dilanjutkan terhadap mereka yang secara mental berubah menjadi baik, sehingga akhirnya jumlah mereka yang tetap dibiarkan dalam pengasingan bisa dihitung dalam angka puluhan dan tidak dalam jumlah ratusan seperti sekarang. Selanjutnya, barangkali tempat pembuangan yang baru ini bisa dihapuskan dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi dan interni sisanya bisa diasingkan dalam kelompok-kelompok kecil di berbagai tempat di kepulauan, di mana mereka bisa tinggal di tengah masyarakat yang apatis terhadap politik[14]

 

Dari laporan Hillen tersebut dapat ditangkap bahwa terdapat usaha untuk menghapus kamp Digul dan menggantikanya dengan kamp pengasingan yang tersebar di hampir wilayah Hindia Belanda. Realisasi dari penelitian Hillen ialah dengan pembebasan 2.199 interaniran. Sayangnya, penutupan kamp Digul tidak dapat terealisasi. Hal ini dikarenakan pergantian gubernur jenderal. Cornelis de Jonge, gubernur jenderal baru, berbeda dengan de Graff, memutuskan untuk mempertahankan Digul sebagai kamp pengasingan.

Pada tahun 1936-1937, pemerintah Belanda mengambil dua keputusan penting terkait dengan kamp pengasingan Digul. Pertama, memutuskan memindahkan Hatta dan Sjahrir dari Digul ke Banda Neira. Hal ini berdasarkan atas kesimpulan bahwa Digul tidak cocok untuk intelektual berpendidikan univesitas. Sebagaimana diungkapkan oleh Residen Maluku pada bulan April 1936, bagi mereka yan tidak cocok berada di bawah rezim Digul karena pendidikan, kemurnian, atau kelahiran mereka maka harus dibuang ke tempat lainnya. Kedua, tidak lama setelah A.W. Tjarda van Starkenborgh Stachouwer menggantikan de Jonge sebagai gubernur jenderal, kantor penunutut umum pada bulan Agustus melakukan penyelidikan atas situasi 800 eks-Digul dan 2.500 eks-komunis yang baru bebas dari penjara. Hasil penyelidikan menyatakan bahwa 45 eks-Digul dan 180 narapidana PKI masih berada di bawah pengawasan ketat polisi karena ancaman potensial dari mereka terhadap tatanan publik. Penunututt umum menyimpulakan bahwa sudah saatnya untuk melakukan pemulangan terhadap interni namun pada saat yang bersamaan menegaskan bahwa mereka yang berusaha mengembangkan gerakan revolusioner bawah tanah juga tokoh garis keras yang dibuang di Tanah Tinggi tidak akan dibebaskan dari Digul.[15]

 

Mengungsi

Serangan Jepang ke Hindia Belanda langsung mempengaruhi kondisi Digul. Militer yang hadir sejak Boven Digul dibuka, ditarik dan digantikan oleh polisi. Sesudah tentara Jepang masuk Hindia Belanda, hubungan Digul dengan dunia luar terputus. Dengan sendirinya, pengiriman bahan makanan bagi interniran terganggu. Akibatnya, kalau dalam keadaan biasa setiap orang buangan mendapat jatah 18 kg beras sebulan, pada saat itu diturunkan menjadi 12 Kg per bulan hingga hanya 6 Kg per bulan. Untuk mengatasi bahaya kelaparan, pemerintah Boven Digul mengambil keputusan untuk mentransmigrasikan orang-orang buangan ke luar Digul. Perjalanan transmigrasi yang dilakukan oleh para orang buangan yang lebih tepat disebut pengungsian tersebut sangat menyedihkan. Perjalanan tersebut dilakukan kira-kira 6000 orang dan melewati hutan belantara. Terkait dengan transmigrasi ini, Soeparmin, pendiri Sarekat Pelayan Bangsa Indonesia, eksdigulis, mencatat sebagai berikut:

…..karena invansi Jepang itu, kami yang dibuang di Digul diberitahu oleh Hindia Belanda bahwa kami tidak akan lagi menerima kiriman makanan. Oleh karena itu, sebuah rombongan (50 orang), dipimpin oleh kepala desa bernama Munandar, melakukan perjalanan ke Merauke guna mencari tempat bercocok tanam. Setelah itu menyusul rombongan (200 orang, termasuk wanita dan anak-anak) melakukan perjalanan melalui hutan dan rawa ke daerah tanjung dan Bian. Ketika sampai di Tanjung keadaan kami kritis sebab kekurangan beras…[16]

 

Di tengah berlangsungnya Perang Pasifik, penduduk Digul sering menyambut pesawat-pesawat terbang Jepang yang melakukan pengintaian di atas Digul. Mereka mengacuhkan larangan pemerintah dan menyambut pesawat tersebut dengan mengacung-acungkan tangannya.[17]

Kedatangan tentara Australia di Digul  membawa kekhawatiran bagi pemerintah Belanda. Kekhawatiran akan terbongkarnya cara-cara Belanda memperlakukan Digulis mendorong pemerintah Belanda menutup kamp Boven Digul dan mengungsikan seluruh interniran ke Australia. Evakuasi interniran tersebut dipimpin oleh Ch. O. Van der Plas pertengahan tahun 1943.

 

Mogok

Pengasingan ke Australia tidak lantas mematikan semangat eksdigulis. Di bawah payung Sarekat Pelayaran bangsa Indonesia (Sarpelindo) dan Australian Indonesian Association, para eksdigulis membangun kekuatan dan berusaha berjuang dari negari seberang. Puncak perjuangan tersebut ialah pemogokan tanggal 23 Agustus 1945. Sebanyak 1.500 interniran mengadakan demonstrasi besar-besaran dari Darlinghurst ke King Street di Sydney. Hasilnya, Sjahrir segera menyerukan agar seluruh interniran yang ada di Australia pulang kembali ke Indonesia.[18]

 

Jasmerah untuk Digul

Tidak munafik, jika ada suatu tempat yang telah di(ter)lupakan dalam memori kolektif dan perlu kita ingat-ingat lagi, Digul-lah tempat itu. Menurut Abdurrahman Surjomihardjo, ada dua hal yang menyebabkan sejarah Digul cenderung termarginalkan dari ingatan bangsa Indonesia. Pertama, penulis sejarah Hindia Belanda yang karya-karyanya dijadikan sebagai acuan, tidak menempatkan gerakan radikal tahun 1926 sebagai bagian dari pergerakan nasional. Petrus Blumbeger, penulis pertama sejarah pergerakan nasional Indonesia, menempatkan gerakan tersebut sebagai bagian dari komunis internasional. Kedua, adanya subyektivitas atau keberpihakan sejarah yang menempatkan gerakan 1926 sama kedudukannya dengan pemberontakan PKI 1948 dan PKI 1965.

Senasib dengan Digul, eksdigulis pun cenderung dilupakan orang. kendati begitu, mereka (eksdigulis tidak mempermasalahkannya). Willy Mangowal, misalnya, menulis sebagai berikut:

Kebanyakan yang mendapat sebutan “perintis kemerdekaan” adalah mereka yang berasal dari (pembuangan) Digul…. Kami tidak memikirkan, siapa yang pantas atau tidak untuk disebut sebagai pahlawan atau perintis kemerdekaan…[19]

 

Orang boleh lupa akan Digul namun sejarah tetap menyurat bahwa Digul adalah bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah perjuangan bangsa untuk mencapai kemerdekaan. Alangkah arifnya, meminjam kata-kata Bung Karno, jangan sekali-kali melupakan sejarah (Digul).

 




[1] Disusun guna memenuhi tugas membuat paper mata kuliah Sejarah Indonesia Masa Pergerakan Nasional.

[2] Orang-orang buangan

[3] Takashi Shiraishi, Dunia Hantu Digoel dalam Hantu Digoel: Politik Pengamanan Politik Zaman Kolonial, (Yogyakarta: LKiS, 2001), Hlm. 14-15.

[4] Abdurahrahman Surjo Mihardjo, “Penempatan Kamp Konsentrasi Digoel dalam Penulisan Sejarah Indonesia”, Prisma Vol. VII, Th. 1988. Hlm. 15. Sebutan Boven Digul sebagai Tanah Merah juga disesuaikan dengan bahasa suku Jair, penduduk asli Boven Digul. Kata Tanah Merah merupakan terjemahan dari sebuah kata dalam bahasa suku Jair, “sokanggo” atau “sokokanggo”. Soko berarti bukit sedangkan kanggo berarti merah. Jadi, tempat tersebut (Boven Digul) oleh suku Jair disebut sebagai “bukit yang tanahnya merah”. Jusuf Mewengkang, “Digulis dan Perlawanan terhadap Kolonialisme”, Prisma Vol. VII Th. 1988. Hlm. 48.

[5] Pembuangan bukanlah sanksi yang dijatuhkan melalui proses hukum (penal sanction) melainkan tindakan administratif, ditetapkan oleh kewenangan isrimewa gubernur jenderal, exorbitant rechten, sehingga siapapun yang dianggap bersalah dapat sewaktu-waktu dihukum.

Boven digul terletak di tepi Sungai Digul yang tingginya hanya 20 meter dari permukaan laut. Jaraknya dari pantai kira-kira 540 km. arus Sungai Digul ini selalu keruh dan didiami berbagai macam buaya. Kapal yang melayarinya hanya dapat menempuh 5 km per jam sehingga untuk mencapai Boven Digul diperlukan waktu paling sedikit 3 hari.

[6] “Digul Takashi Shiraishi tentang Politik Kolonial Tahun 1920-an dan Tahun 1930-an” dalam Mencari demokrasi, ISAI Jakarta; 1999

[7] Takashi Shiraishi, hlm. 1-2.

[8] Jusuf Mewengkeng, Hlm. 49

[9] Loc.Cit

[10] Novel ini bercerita tentang sejarah suatu keluarga di Amerika Latin yang penuh dengan rasa kesepian dan terisolasi

[11] Suwignyo, “Buruh Kereta Api: Perintis Kemerdekaa”, Prisma Vol VII Th. 1988.

[12] Takashi Shiraishi. Hlm. 31-32.

[13] Hal ini terkait dengan insoden yang dilakukan oleh para interni ketika Gubernur Maluku melakukan lawatan ke Gudang Arang. Para interni yang terlibat CRD, ketika kapal yang ditumpangi Gubernur Maluku merapat, Berdiri memunggungi sungai dengan celana sengaja diturunkan, dan memberi sambutan dengan pantat telanjang. Tindakan para interni tersebut dianggap sebagai pelecehan kepada gubernur.

[14] Ibid, Hlm. 12.

[15] Ibid, Hlm. 15-16.

[16] Soeparmin. “Dibuang ke Digul, Mogok di Australia”, Prisma Vol VII Th. 1988, Hlm.31.

[17] Jusuf mewengkeng. Hlm 54.

[18] Willy Mangowal,”Menjuangkan Kemerdekaan dari Seberang”, Prisma Vol VII Th. 1988.

[19]  Prisma Vol VII Th. 1988, Hlm. 37.

Januari 15, 2008. essay.

Tinggalkan sebuah Komentar

Be the first to comment!

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback URI

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: