KETIKA ANAK ADALAH ASET

Sebaiknya kita berpikir ulang sebelum menjust motif ekonomi sebagai pendorong utama penculikan anak yang kini merajalela  di Indonesia. Perubahan sosial masyarakat yang ditandai dengan budaya instant, mendapatkan segala sesuatu dengan cara yang mudah dan cepat boleh jadi merupakan salah satu jawaban lain atas fenomena yang akhir-akhir ini meresahkan masyarakat. Himpitan hidup yang ditandai dengan semakin sulitnya pemenuhan kebutuhan dasar manusia seperti sandang, pangan, papan, kesehatan dan pendidikan menuntut orang untuk bertindak cepat. Minimal untuk mempertahankan hidup. Lebih-lebih di zaman dimana semua harga barang terasa mencekik seperti sekarang ini. Jalan pintas pun akhirnya menjadi pilihan dan tak bisa dihindarkan.  Tak bisa tidak, keinginan-keinginan tersebut kemudian mendorong orang melakukan apapun. Legal atau illegal tak lagi menjadi persoalan yang penting. Penculikan terhadap anak-anak salah satunya merupakan  jalan pintas untuk menuntaskan lilitan hidup.

Kenapa harus anak-anak? Adanya mainstream masyarakat bahwa anak adalah aset orang tua juga agaknyalah yang melatarbelakangi tindakan yang beberapa bulan ini santer dan mewabah di Indonesia. Selayaknya bisnisman, orangtua manapun tidak akan rela asetnya direbut dan dikuasai oleh orang lain. Lebih-lebih jika penguasaan aset tersebut dijadikan si pencuri, dalam hal ini penculik, untuk menjatuhkan atau memperburuk keadaan si bisnisman. Dalam hal ini, tampak jelas bahwa anak bisa jadi dijadikan sebagai alat politik untuk menjatuhkan orang tua. Hal ini bisa dibuktikan dengan beberapa kasus yang akhir-akhir ini terbongkar. Keinginan melampiaskan dendam, sakit hati, utang piutang, dan konflik membuat orang yang termarginalkan karena keempat hal itu berusaha membalasnya lewat si anak. Hal tersebut ditambah lagi dengan kenyataan bahwa anak adalah person yang belum matang dalam masyarakat. Mempermudah sekaligus membantu pelaksanaan tindakan kriminal tersebut.

Penculikan anak adalah kejahatan berat. Tentu saja. Hal ini bisa membawa dampak psikologis bagi anak-anak. Tak hanya bagi anak yang diculik, bagi anak-anak yang belum menjadi korban pun merupakan momok yang paling menakutkan. Dan seperti yang sudah-sudah, penculikan pun kini menjadi pobia tersendiri bagi anak-anak. Ada kecenderungan bahwa anak kemudian takut untuk keluar rumah dan jauh-jauh dari orangtua mereka. Trauma.

Penculikan anak kian merajalela. Kita tak bisa membiarkan hal tersebut berlarut-larut. Kontrol sosial dalam hal ini menjadi faktor yang sangat penting. Tak hanya orang tua, masyarakat pun kini ada baiknya menaruh kepedulian terhadap anak anak. Berhubung lingkungan anak-anak adalah sekolah dan masyarakat, perhatian dari seluruh warga sekolah juga masyarakat sekitar tempat tinggal pun layak untuk ditingkatkan. Tak hanya itu, ada baiknya jika hukum mengenai perlindungan anak diperketat sekaligus diperkuat. Boleh jadi, maraknya kasus penculikan anak lebih dilatarbelakangi longgarnya sistem hukum juga pranata sosial masyarakat. Anak-anak merupakan tanggungjawab bersama. Sudah selayaknyalah kita menaruh kepedulian terhadap keselamatan dan masa depan mereka. Kalau bukan kita, siapa lagi?

 

Januari 15, 2008. Tak Berkategori.

Tinggalkan sebuah Komentar

Be the first to comment!

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback URI

%d blogger menyukai ini: