DRAMA POLITIK ANWAR IBRAHIM VS MAHATHIR MUHAMMAD

Dunia politik ialah dunia yang keras. Tidak ada kawan. Tidak ada pula lawan. Yang ada hanyalah kepentingan. Kalau saling memberi manfaat maka boleh jadi itu adalah kawan. Namun ketika tidak lagi memberi manfaat atau sudah tidak bisa membantu mewujudkan keinginan atau malah menghambat jalan itulah musuh.

Agaknya hal itu yang menimpa Anwar Ibrahim. Hubungannya dengan Mahathir Muhammad boleh jadi bukan hubungan persahabatan namun lebih kepada kepentingan. Ketika Anwar tak lagi bisa memberikan manfaat dan justru menghambat karier politik selanjutnya bukan hal ynag sulit bagi Mahathir untuk mendepak Anwar dari jajaran kabinet. Tak hanya cukup sampai disitu, Mahathir juga melakukan serangkaian manuver-manuver dan mempengaruhi petinggi-petinggi di United Malays National Organisation (UMNO) untuk mendepak Anwar dari jabatan ketua Sayap Pemuda UMNO dan membuang Anwar ke jalanan yang akhirnya menjadi santapan pengadilan yang sama sekali tidak mencerminkan kedailan.

Ada apa dengan Anwar? Sebagai orang awam kita layak bertanya. Bagaimana mungkin seorang anak kesayangan dalam waktu kurang dari 24 jam tiba-tiba saja menjadi anjing gelagak yang terus diburu orang karena kudisan dan terus saja menggonggong menyuarakan suara yang diyakini sebagai suara keadilan?

Apa yang dialami oleh Anwar memang layak disebut sebagai konspirasi politik. Siapa sangka usaha Anwar untuk membersihkan partai dan kabinet yang ditinggal cuti dua bulan oleh Mahathir dari unsur-unsur korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) malah menggiringnya ke bui  dengan tuduhan KKN! Sungguh sangat ironis! Seorang pejuang ditikam dengan perjuangan sendiri.

Langkah-langkah Anwar untuk memerangi koruptor kemungkinan besar menimbulkan kebencian yang bergelora terutama dari orang-orang yang telah disingkirkannya semisal Zainab-bendahara pergerakan UMNO-, Habshah Osman,  dan Menteri Besar Selangor, Muhammad Muhamad. Kebencian, dendam, juga sakit hati itu agaknya yang mendorong orang-orang yang dirugikan kepentingannya dengan keberadaan Anwar membentuk koalisi dan menyusun drama konspirasi untuk menggulingkan suami Wan Azizah Wan Ismail itu dari kedudukan sebagai Menteri Keuangan juga deputi Perdana Menteri.

Mahathir Muhammad layaknya Pandhita Durna hanya diam dan berpangku tangan  melihat kemelut antara anak-anaknya meskipun akhirnya secara terangan-terangan memihak kurawa Malaysia dan berusaha menjerusmuskan Anwar-sang Werkudara- ke jurang keterpurukan. Mahathir juga layak dicurigai sebagai sutradara dan aktor dalam drama penggulingan yang berlangsung kurang dari satu malam tersebut. Anwar boleh jadi memang anak kesayangannya dan menjadi kebanggaan melebihi Razaleigh, Najib, dan Abdullah Badawi, ”anak-anak Mahathir” lainnya, namun ketika anak kesayangan tersebut justru mengancam kedudukannya sebagai Bapak atas semua orang di negara yang pernah dikuasai Inggris tersebut bukan hal sulit bagi Mahathir untuk mendepak sang anak dari kursi emas. Lebih lagi ketika sang anak kesayangan menang pamor dan ”ngeyel”. Sebagai mana diketahui, setahun sebelum krisis ekonomi 1997 yang melanda semua negara Anwar menerbitkan buku yang berjudul The Asian Renaissance  yang berisi tentang demokrasi dan hak-hak asasi manusia dalam era pasar bebas. Tidak hanya itu, setahun setelah krisis Anwar tetap mempertahankan kebijakannya bahwa satu-satunya jalan bagi Malaysia untuk keluar dari krisis ialah penghematan besar-besaran dan pembersihan kabinet dari unsur-unsur KKN bukannya dengan menerapkan kebijakan moneter sebagaimana yang disarankan oleh Mahathir.

Di depak dari kursi emas ternyata tidak membuat Anwar jera. Bukannya diam dan menangisi pemecataanya pada tanggal 2 September 1998 tersebut, bapak berputra enam anak tersebut justru mempersiapkan tuntutan atas pemecatan yang tidak hormat. Tidak hanya itu, Anwar juga mendalangi serangkaian aksi demonstrasi menuntut reformasi di semua bidang terutama bidang pemerintahan dan keuangan. Langkah-langkah Anwar tersebut tentu saja membuat Mahathir sekaligus terancam kedudukannya karena pasca pemecatan Anwar mendapat banyak sekali dukungan dari rakyat yang agaknya telah menyadari bahwa saatnyalah bagi Malaysia untuk berubah tidak lagi dipimpin oleh  Mahathir-kakek yang telah uzur dimakan usia-. Bersama dengan orang-orang yang telah disingkirkan Anwar juga Menteri Perdagangan Dalam  Negeri dan Masalah Konsumen Malaysia, Megat Junid Megat Ayon, Mahathir merancang sebuah drama lagi. Tidak cukup dengan tuduhan korupsi, Mahathir pun menyarangkan tuduhan selingkuh dan homoseksual kepada Anwar Ibrahim hingga pada akhirnya Anwar diseret ke pengadilan dengan lima tuduhan korupsi dan lima tuduhan selingkuh serta sodomi dan diancam dengan hukuman enam tahun penjara.lagi-lagi, usaha Mahathir tersebut justru malah merugikan dirina sendiri serta kroni-kroninya. Bukannya semakin merebut simpati dari masyarat, Mahathir justru malah harus melihat kenyataan bahwa masyarakat ternyata lebih memilih Anwar terbukti dengan maraknya demonstrasi menuntut pembebasan Anwar juga banyaknya dukungan luar negari semisal Amerika Serikat dan Filipina agar Mahathir memberikan Amnesti kepada mantan deputinya tersebut. Tak kalah akal, Mahathir menjalin hubungan dengan kepala keplisian, Rahim Noor untuk membungkam Anwar. Namun tindakan Mahathir tersebut lagi-lagi tidak cukup untuk membungkam mulut Anwar dan memojokkannya sebagai seorang pesakitan. Anwar yang diwakili oleh istrinya, Wan Azizah Wan Ismail, tidak tanggung-tanggung membentuk partai politik yang diberi nama Partai Keadilan Nasional (PKN) untuk menjegal langkah Mahathir dalam pemilu 1999 yang diyakini sebagai muara semua kemelut politik yang tengah terjadi di Malaysia.

Becik ketitik ala ketara. Mahathir boleh saja berhasil menjegal Anwar dalam pemilu 1999 dan menempatkannya sebagai seorang pesakitan meskipun dengan bukti-bukti yang cacat hukum-apa mau dikata, sudah menjadi rahasia umum bahwa pengadilan sudah tidak lagi mencerminkan keadilan dan hanya menjadi alat penguasa untuk melegalkan pemerintahan-namun pada akhirnya kebenaranlah yang berbicara. Harusnya Mahathir dan kroninya-kroninya berpikir ulang sebelum melempar tuduhan selingkuh dan homoseksual kepada Anwar. Harusnya mereka sadar sebelumnya bahwa Anwar mengawali karier politiknya dengan memimpin Lembaga Swadaya Masyarakat Belia Islam Malaysia, dosen kajian Islam, dan yang paling penting Anwar ialah seorang Islam yang taat- saking taatnya Anwar, pemimpin-pemimpin Islam Malaysia pun bahkan takut kalau  Anwar memimpin Malaysia boleh jadi Anwar akan membelokkan negara menjadi negara Islam-sehingga ayal bagi Anwar untuk melakukan tindakan selingkuh dan sodomi. Hal itu diperkuat dengan pengakuan Azizan dan Ummi bahwa mereka melemparkan tuduhan sodomi dan perselingkuhan karena ditekan Mahathir dan dijanjikan memegang proyek besar. Anwar kini telah bebas meskipun belum sepenuhnya menduduki jabatan politik karena masih dituduh kuat terlibat korupsi tahun 1998. Hal tersebut semakin memperkuat bukti bahwa langkah-langkah Mahathir untuk memecat Anwar Ibrahim dan segala macam dakwaan yang dilayangkan kepada Anwar lebih kepada konspirasi politik Mahathir dan kroni-kroninya untuk menjegal Anwar dalam pemilu 1999.

Kalau boleh saya katakan, konspirasi-konspirasi politik menjegal Anwar dimulai dengan pemecatan Anwar 2 September 1998, tuduhan korupsi dan penimbunan kekayaan melebihi 60 miliar oleh Anwar dan kroni-kroninya, dugaan bahwa Anwar membersihkan kabinet dengan cara menempatkan kroni-kroninya di jajaran kabinet dan aspek-aspek lainnya, tuduhan sodomi terhadap Azizan Abubakar dan perselingkuhan dengan Ummi Hafilda Ali. Konspirasi politik tersebut, menurut saya, juga lebih kepada ketakutan Mahathir dan kroni-kroninya terhadap Anwar yang  merugikan kepentingan mereka. Lebih lagi, Anwar mendapat banyak dukungan dan simpati dari masyarakat ketimbang mahathir. Jika hal tersebut dibiarkan secara terus-menerus bukan tidak mungkin Anwarlah pemimpin Malaysia selanjutnya dan arah negara bisa berubah total menjadi negara Islam.

Januari 15, 2008. Tak Berkategori.

Tinggalkan sebuah Komentar

Be the first to comment!

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback URI

%d blogger menyukai ini: